6 TIPS SUKSES MENGAJUKAN KREDIT KE BPR

memasuki awal 2018 dengan semangat baru, untuk mencapai target yang dicanangkan, bagian divisi kredit di BPR KAS gencar memasarkan produk- produk kredit. Hal tersebut tercermin dari banyaknya aplikasi permohonan kredit yang masuk ke bagian analis kredit. Namun dari 100% jumlah aplikasi permohonan kredit yang diproses, hanya 25% sampai tahap komite kredit, dan akhirnya hanya 10% yang disetujui plafond kreditnya sesuai permohonan. Atas kondisi ini, salah satu lending manager saya bertanya, “pak, koq sulit sekali proses pencairan kredit di BPR?” Pertanyaan karyawan saya tersebut, pasti juga pertanyaan mewakili rekan-rekan pengusaha mikro, kecil dan menengah atau pegawai yang memohon kredit di BPR dan berujung ditolak atau tidak sesuai harapan. Proses pengajuan kredit di lembaga keuangan BPR, sebetulnya tidak sulit, justru lebih mudah daripada di Bank Umum.
Dimana segment konsumen yang menjadi fokus BPR adalah pengusaha usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) atau pegawai, yang belum Bankable sesuai standar Bank Umum. Hanya beberapa hal yang wajib dipenuhi pada saat pengajuan kredit. Dan inilah 6 tips sukses pengajuan kredit di BPR, yaitu :

1. Jadilah Pribadi yang Baik.
Faktor nomor satu menjadi dasar penilaian kredit di BPR adalah pribadi calon debitur. Menjadi Pribadi yang baik sangatlah penting untuk dapat mengakses pinjaman. Menilai seseorang pribadi yang baik atau tidak, BPR menggunakan data historis BI Checking/SID dan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK). Dari data historis ini, akan tercermin apakah calon debitur merupakan pribadi yang baik. Calon debitur diangap pribadi baik, jika fasilitas kredit yang pernah dimiliki memiliki kolektibilitas lancar (koll 1). Calon debitur seringkali menganggap remeh masalah menjaga kolektibilitas 1. Nah mulai darisekarang, coba cek dan re-check lagi apakah anda punya tagihan kartu kreditdan tagihan kredit lainnya yang belum diselesaikan. Sisi lain penilaian pribadi calon debitur adalah berdasarkan wawancara langsung dengan calon debitur serta investigasi analis BPR di lingkungan sosial masyarakat.

2. Memiliki Tujuan Kredit Jelas
Proses pengajuan kredit di BPR oleh calon debitur, haruslah memiliki tujuan yang jelas. Mengukur jelas tidaknya tujuan kredit tersebut, setidaknya ada 2 pertanyaan yang wajib calon debitur tanyakan pada diri sendiri. Pertama, untuk apa dana pinjaman kredit akan saya gunakan? Kedua, berapa besar jumlah pasti yang benar-benar saya butuhkan? Kesalahan yang sering timbul pada saat pengajuan kredit adalah calon debitur ngak 100% paham tujuan pinjaman tersebut diajukan, lebih parahnya lagi calon debitur seringkali mengajukan jumlah pinjaman berdasarkan berapa nilai agunan yang dijaminkan. Harus dipahami, bahwa BPR bukan seperti lembaga Pegadaian.

3. Persyaratan Dokumen Lengkap
Pengajuan kredit ke BPR sudah sepatutnya disertai dengan dokumen yang lengkap dan informatif. Yang dimaksud dengan dokumen lengkap di BPR terbagi dua kelompok.
Pertama, data hukum seperti KTP, Kartu Keluarga, Surat Nikah, SIUP atau SKTU, sertifikat/BPKB dan IMB. Kedua, data keuangan seperti data buku tabungan/rekening giro 6 bulan terakhir, rekap penjualan dan lebih baik lagi jika ada Neraca, Laba/Rugi in house. Untuk dapat menjadi debitur BPR, beberapa data minimal wajib terpenuhi, dan hal itu dapat di diskusikan dengan staf kredit BPR tersebut. Namun sejogyanya kedepan, calon debitur BPR mulai berbenah, khususnya kerapian dokumen keuangan. Sehingga jika usahanya semakin berkembang, dapat meminta kenaikan plafond pinjaman dengan mudah.

4. Kemampuan Pembayaran Memadai
Menilai kemampuan pembayaran calon debitur oleh analis BPR merupakan hal penting, guna menjaga kualitas kredit yang diberikan tetap baik. Nah sebagai calon debitur, sebaiknya anda menghitung berapa pendapatan anda? Apakah nominal kredit yang anda ajukan, dapat anda penuhi kewajibannya setiap bulan dari pendapatan anda? Biasanya analis BPR menyetujui jumlah plafond kredit, berdasarkan kekuatan kemampuan bayar. Analisa dilakukan dari mutasi rekening tabungan, slip gaji, rekap penjualan dan laporan laba/rugi. Kemudian analis kredit BPR menghitung persentase kemampuan bayar 30% s.d 35% dari total pendapatan setiap bulannya.

5. Memiliki Agunan
Memiliki asset tetap berupa tanah, rumah atau kendaraan bermotor merupakan “nilai lebih” saat anda akan mengajukan pinjaman di BPR. Agunan berguna untuk meminimalisir resiko apabila terjadi kredit macet. BPR biasanya akan mengutamakan jaminan berupa rumah tinggal, tanah peruntukan perumahan dan kendaraan bermotor dengan usia tidak lebih dari
5 tahun. Tiap BPR memiliki cara penilaian berbeda-beda, namun persentase nilai dibandingkan jumlah plafond yang diajukan minimal 70% s.d 80%. Namun bagi yang tidak memiliki agunan namun pengusaha mikro, jangan berkecil hati. BPR biasanya memiliki fasilitas kredit mikro dengan planfond maksimal Rp. 25 Juta, yang diberikan tanpa jaminan.

6. Pilihlah BPR Yang Tepat
Memilih BPR yang tepat pada saat anda mengajukan kredit adalah hal yang penting. Pilihlah BPR yang memberikan pelayanan cepat sesuai kebutuhan anda. Pilihlah BPR yang dapat mengedukasi dan membina anda secara berkelanjutkan. Pilihlah BPR yang bisa memberikan anda struktur fasilitas kredit terbaik dengan bunga kompetitif dan biaya yang tidak memberatkan, sehingga anda diawal tidak langsung memanggul beban yang berat

Dengan 6 tips tersebut diatas, semoga anda akan dengan mudah dan berhasil saat mengajukan kredit di BPR.

Comments ()

November 23, 2019 at 04:36am

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *